Emma, seorang remaja berusia 15 tahun yang hamil akibat pemerkosaan, menentang komunitas Protestan pedesaan yang represif demi menentukan jalan hidupnya sendiri; ia mengubah traumanya menjadi katalis bagi emansipasi sembari menghadapi kemunafikan moral di desanya serta bayang-bayang Perang Dunia II yang menyelimuti lingkungannya.














